KPETRO | Saya Ingin Bertemu Anda: Memimpikan Seni yang Dijalani Bersama, Melampaui Komunikasi
Wawancara dengan pelukis Korea Kim Hyun Jung yang dimuat di kolom 'Saya Ingin Bertemu Anda' pada K-Petro Magazine (vol. 116, Desember 2015), yang membahas cara kerja seri 'Naesoong' yang melukis keseharian perempuan berhanbok, komunikasi dengan publik melalui media sosial, serta gagasan 'social drawing'.
Lihat teks lengkap
Memimpikan seni yang dijalani bersama, melampaui komunikasi
Ada orang yang membawa angin pendobrak ke dalam lukisan Oriental, yang selama ini dianggap sebagai wilayah seni yang statis. Dia adalah pelukis Korea Kim Hyun Jung, yang mendapat sorotan melalui 'seri Naesoong' (Naesoong adalah istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan). Gaya lukisannya yang baru dan penuh kejutan memang menjadi bahan perbincangan, tetapi ia juga meruntuhkan pandangan baku tentang pelukis yang selama ini dianggap misterius dan aktif mendekati publik. Akan seperti apa dunia seni rupa baru milik pelukis Kim Hyun Jung yang memimpikan komunikasi aktif dengan publik?
Menyentil Naesoong melalui gabungan hanbok dan keseharian
Pelukis Korea yang menikmati media sosial; lukisan Korea yang menampilkan perempuan berhanbok mengendarai motor dan perempuan yang menyantap ramyeon dengan posisi tubuh acak-acakan. Kita mungkin menganggapnya gabungan yang tak terduga, tetapi inilah kisah pelukis Kim Hyun Jung yang dicintai banyak orang karena kecerdasannya yang penuh kejutan dan dunia karyanya yang ceria.
"Karya saya terutama mengungkapkan dengan penuh kecerdasan sosok perempuan yang menjalani kehidupan sehari-hari yang biasa sambil mengenakan hanbok. Saya mulai melukis dengan berangkat dari keanggunan dan sisi penuh rahasia yang diberikan hanbok."
Meski ia perempuan muda yang mungkin lebih menyukai rok mini atau celana jin daripada hanbok, pelukis Kim Hyun Jung adalah profesional sejati yang gemar mengenakan hanbok bahkan dalam kesehariannya demi menggambarkan tokoh utama dalam karyanya secara lebih sempurna. Tema yang ia ungkapkan adalah 'Naesoong'.
Setelah pameran tunggal yang digelar pada 2013 dengan tema 'Kisah Naesoong', lukisan yang dipamerkan terus terjual habis seluruhnya dan menimbulkan perbincangan. Setelah itu, setiap pamerannya, seperti 'Olimpiade Naesoong', 'Naesoong, Kisah Musim Dingin', dan 'Kisah Naesoong', mendapat sambutan besar. Khususnya 'Olimpiade Naesoong' menarik hingga 24.000 pengunjung selama 10 hari. Apa alasan 'Naesoong', yang menyentil hal-hal yang luar dan dalamnya berbeda, menjadi kata kunci karya pelukis Kim Hyun Jung?
"Saya ingin melukis orang-orang yang mengenakan pakaian anggun bernama hanbok namun berperilaku sebaliknya. Sebenarnya saya melukis Naesoong seorang perempuan dengan menjadikan diri saya sebagai model, tetapi Naesoong yang ingin saya ungkapkan bermakna lebih luas. Tanpa memandang jenis kelamin, siapa pun memiliki hasrat untuk tampak baik, bukan? Hal seperti itulah yang ingin saya gambarkan."
Karya yang meruntuhkan kebakuan lukisan Korea dan diri yang terbelenggu
Berbeda dengan lukisan Korea tradisional, cara kerjanya unik. Ia sendiri menjadi tokoh utama dalam karya, membuat sketsa dari foto yang diambil, lalu mengenakan pakaian di atasnya. Setelah itu figur diungkapkan dengan warna tipis, benda dengan warna pekat, dan pakaian diungkapkan dengan teknik tinta dan warna tipis atau kolase.
"Siluet tubuh sedikit terlihat di balik hanbok. Saya menyampaikan pesan 'isi hati seseorang terlihat jelas' sekaligus memberi kesempatan untuk membayangkan hal apa yang terjadi di dalam rok itu."
Meski ia sendiri yang menjadi model, pada awalnya ia bahkan tidak berpikir bahwa figur dalam lukisan itu adalah dirinya, karena ia menimpakan kepribadian orang lain. Namun suatu hari, melalui cermin di studio, ia kembali menyadari bahwa orang yang ada di atas kanvas itu sama persis dengan dirinya, dan itu menjadi titik peralihan yang penting.
"Figur dalam lukisan itu ternyata menyerupai saya, bukan hanya rupanya, tetapi bahkan perasaan setengah-setengah karena menyadari pandangan dari luar. Karena itu saya berpikir bahwa jika saya dengan jujur menumpahkan sosok diri saya yang terbelenggu pandangan dari luar, saya akan sedikit demi sedikit menjadi lebih percaya diri terhadap pandangan itu."
Dengan begitu 'Naesoong' tanpa terasa menjadi potret diri yang bersifat pengakuan, dan karena menerima sosok dirinya sendiri, ia dapat melukis dengan lebih nyaman. Ia mencari materi secara lebih aktif dari sosok dirinya dan kesehariannya. Nyatanya, karyanya 'Semangat Bertarung' menuangkan sosok dirinya yang makan dengan tergesa-gesa karena merasa hampir tumbang setelah melewatkan waktu makan demi bekerja. Ia menjepit kentang goreng dengan sedotan agar tangannya tidak berminyak saat sedang mengerjakan lukisan.
Ia merasakan kebebasan saat melukis karyanya, namun ia juga berharap karyanya menjadi 'ruang pembebasan' bagi para penikmatnya.
"Di dunia yang keras ini, pertama-tama saya ingin orang-orang tertawa lepas ketika melihat lukisan saya. Lebih jauh lagi, alangkah baiknya jika karya saya menjadi momen bagi penikmatnya untuk menengok diri mereka sendiri."
Komunikasi dengan penikmat karya adalah kesempatan untuk mengembangkan karya lebih jauh
Ia juga terkenal sebagai pelukis yang bermain media sosial. Pengikut Twitter dan Instagramnya saja mencapai 100.000 orang. Saat menggelar pameran pertamanya, ia secara kebetulan merasakan langsung kekuatan media sosial, lalu mulai berkomunikasi secara aktif. Komunikasi itu juga berangkat dari rasa sayangnya sebagai orang yang mencintai seni rupa terhadap seni rupa yang masih berjarak dari publik.
"Saya berpikir bahwa lukisan yang hanya bisa dilihat jika kita pergi ke ruang pameran menjadi tembok penghalang. Jika terlihat setiap hari, tentu akan muncul kesukaan dan rasa sayang. Sambil merenungkan apakah ada cara untuk menyelesaikan hal itu, saya memikirkan media sosial."
Setelah mendekati penikmat karya melalui media sosial, belakangan karyanya juga dimanfaatkan dalam iklan, dan ia aktif menjalankan kerja sama dengan perusahaan. Di dunia seni rupa yang mementingkan senioritas dan rekam jejak, kontribusinya dalam menyebarkan seni rupa secara populer sebagai 'idola lukisan Korea' juga telah diakui.
Seorang pelukis yang menerima harapan banyak orang. Berbeda dengan anggapan bahwa keseharian seorang pelukis itu santai, ia berangkat kerja seperti pegawai kantor dan menenggelamkan diri dalam lukisan dari pukul sembilan pagi hingga pukul tujuh malam. Di tengah itu, pekerjaan untuk berkomunikasi dengan publik pun tidak bisa ditunda. Ketika bermain media sosial, kadang ada perkataan yang melukai, tetapi ia senang karena dapat mendengar perasaan penikmat secara langsung, dan menurutnya proses ketika karya yang telah lepas dari tangannya ditafsirkan kembali juga menarik.
"Perkataan pahit menjadi kekuatan sebagai perkataan pahit, dan perkataan baik menjadi kekuatan sebagai perkataan baik. Komentar jahat pun saya anggap sebagai kritik yang belum tersaring, lalu saya berpikir 'ah, ada sisi seperti itu juga', dan justru saya berusaha mengembangkan diri saya sendiri. Singkatnya, bisa dikatakan bahwa makin saya berkomunikasi dengan penikmat karya, makin saya menguatkan tekad untuk terus menempuh jalan saya dengan sungguh-sungguh."
Memimpikan seni rupa yang bisa dinikmati siapa saja tanpa beban
Sebenarnya ia berpikir bahwa lukisan pada dasarnya tidak memiliki tembok penghalang komunikasi. Meski bahasanya berbeda, siapa pun bisa merasa terwakili, dan lukisan juga dapat menjelaskan dengan jernih hanya melalui satu lembar hal yang harus diuraikan panjang dengan kata-kata agar dipahami. Ke depan, ia ingin membuka dunia baru bernama 'social drawing', melampaui pelukis yang berkomunikasi. Yaitu berdiskusi bersama publik tentang sebuah karya dengan memanfaatkan media sosial dan lebih jauh menyelesaikan karya itu.
"Saya menggagasnya dengan pemikiran bahwa alangkah baiknya jika seni rupa menjadi budaya yang bisa dinikmati siapa saja. Belum ada yang dimulai dengan nama social drawing, tetapi jika dilihat secara luas, saya merasa sekarang pun sudah menjalankannya. Sebab saya menerima usulan materi, dan karya saya juga terlahir kembali melalui tafsir yang sama sekali tak terduga."
Ia yang memimpikan seni rupa tanpa beban dan tanpa tembok penghalang sedang menyiapkan satu pameran lagi dengan tema 'Taman Hiburan Naesoong' pada Maret tahun depan. Lukisan yang membuat pengunjung merasa seperti datang ke taman hiburan, bermain bersama seni rupa, dan berkomunikasi secara menyenangkan dengan pelukisnya. Dunia seni rupa yang menyenangkan yang akan dibuka pelukis Kim Hyun Jung sambil berkomunikasi dengan penikmat karyanya sungguh dinantikan.