Ia melukis kehidupan dan emosi manusia masa kini dengan humor dan satire. Melalui tokoh berbusana hanbok dalam ‘Seri Naesoong’, ia mencatat Korea masa kini sebagai lukisan adat abad ke-21.
Profil Seniman
Pengenalan dunia karya pelukis Korea Kim Hyun Jung serta latar belakang kegiatannya. Telusuri titik awal dan riwayat utama seorang seniman yang menggambarkan kehidupan manusia masa kini melalui tokoh Naesoong (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan).
Karya Kim Hyun Jung berawal dari pengamatan terhadap diri sendiri, lalu bertemu dengan tokoh bernama Naesoong (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan), dan berkembang dengan menjelajahi sisi dalam dan sisi luar tokoh tersebut. Dari lukisan awal hingga seri Naesoong, karya tentang pernikahan dan hubungan, sampai karya yang meluas ke berbagai media, alur perjalanan tersebut dapat ditelusuri berdasarkan tema.
Catatan pameran tempat karya Kim Hyun Jung bertemu dengan penonton. Berpusat pada pameran tunggal, telusuri pameran kelompok, pameran undangan, dan pameran utama di dalam maupun luar negeri secara kronologis.
Proyek-proyek yang membawa karya Kim Hyun Jung melampaui dinding galeri ke ranah merek dan produk, ruang dan media, serta ranah publik. Lihat bagaimana lukisan Korea dan citra Naesoong diwujudkan dengan cara baru melalui pertemuan dengan setiap bidang.
Kumpulan tulisan dan buku yang ditulis langsung oleh Kim Hyun Jung, kritik dan penelitian pihak luar tentang karyanya, serta catatan yang tertinggal melalui publikasi dan media. Telusuri bagaimana karya seorang seniman ditulis, ditafsirkan, dan dicatat oleh masyarakat.
Kumpulan kegiatan dan karya Kim Hyun Jung yang diperkenalkan melalui surat kabar, siaran televisi, majalah, dan media daring. Catatan tentang bagaimana pameran, karya, kolaborasi, dan wawancara utamanya bertemu dengan masyarakat.
Menggambarkan kain secara tembus pandang mengandung makna 'isi hatinya terlihat jelas'. Hal ini dimaksudkan untuk mengarahkan penonton pada pemahaman tentang Naesoong (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan) itu sendiri. Saya berpendapat bahwa pandangan Konfusian yang menuntut sesuatu 'karena kamu perempuan' masih banyak tersisa dalam kehidupan kita, sehingga orang sering kali harus menyembunyikan keinginan dan jati dirinya yang sebenarnya. Karena itu, melukis tokoh dalam keadaan telanjang memiliki makna penting: melampaui pakaian yang bagaikan tirai untuk mendandani diri, ia memperlihatkan esensi tokoh yang polos dan apa adanya. Melalui hanbok yang tembus pandang, penonton dapat melihat ke dalam diri tokoh, dan siluet yang tampak samar-samar itu melambangkan kemungkinan untuk mendekati hakikat sang tokoh.
Mengapa menggunakan tinta pada rok?
Melukis rok dengan tinta dan warna tipis merupakan hal yang sangat bermakna. Bagian dalam rok perempuan yang lebar bagaikan alam semesta. Rok perempuan menyimpan banyak rahasia dan isinya tidak dapat diketahui, dan dari sanalah saya memperoleh citra ketakterbatasan (無窮). Tinta (墨) yang saya gunakan dalam berkarya juga mengandung ketakterbatasan alam semesta. Laozi mengatakan bahwa wujud sejati yang menjadi batas antara ada dan tiada, yin dan yang, adalah warna hitam tinta, yaitu hyeon (玄); hyeon ini berada di luar dunia persepsi kita, dan melaluinya kita dapat mencicipi kedalaman misteri alam semesta. Karena warna hitam tinta memiliki rasa keindahan yang tak terbatas dan misterius, maka menggambarkan rok perempuan yang menyerupai alam semesta dengan tinta tipis adalah sesuatu yang alami dan sudah semestinya.
Bagaimana proses pembuatan karya?
Saya memadukan teknik tradisional dengan kolase. Secara umum prosesnya melalui tiga tahap: ① pemotretan dan pembuatan sketsa dasar → ② pewarnaan → ③ kolase. Pemotretan dilakukan dua kali. Pemotretan pertama bertujuan menangkap siluet tubuh, sedangkan pada pemotretan kedua model berpose sama sambil mengenakan hanbok. Karena seri Naesoong mendandani siluet tokoh layaknya bermain boneka kertas, kedua pemotretan ini mutlak diperlukan. Setelah pemotretan selesai, saya memindahkan citra foto ke kertas alas sebagai sketsa dasar. Setelah sketsa selesai, pewarnaan dimulai. Pada tahap pewarnaan, tokoh digambarkan dengan warna tipis (淡彩, damchae), sedangkan benda-benda yang digunakan tokoh digambarkan dengan warna pekat (眞彩, jinchae). Terakhir, saya 'memakaikan' pakaian pada tokoh melalui lukisan tinta dan warna tipis atau kolase kertas hanji (kertas tradisional Korea). Ciri khas ekspresi Naesoong yang paling menonjol justru muncul pada tahap ini. Sebenarnya saya ingin menampilkan kesan khas jeogori (atasan hanbok) secara nyata, dan setelah lama berpikir, saya teringat pada kolase kertas hanji. Rok hanbok berpotongan lebar sehingga terkesan berayun lembut, sedangkan jeogori dibuat pas di badan hingga terasa agak kecil, sehingga kesannya lebih kaku, terutama pada garis bahu. Kolase kertas hanji sangat efektif untuk menampilkan tekstur hanbok seperti ini. Dalam Naesoong, kolase adalah sarana ekspresi hanbok yang efektif sekaligus mengembuskan ketegangan dan kehidupan ke dalam bidang gambar. Kolase juga memengaruhi citra keseluruhan karya bergantung pada bentuk dan warnanya. Fungsi khas kolase kertas hanji berpadu dengan lukisan tinta dan warna tipis pada tokoh sehingga menampilkan keindahan yang unik.
Kontak
Ruang untuk pertanyaan seputar karya, pameran, kolaborasi, dan media. Silakan tinggalkan keterangan yang relevan, dan kami akan menghubungi Anda setelah meninjaunya.