Kontak
Ruang untuk pertanyaan seputar karya, pameran, kolaborasi, dan liputan media. Silakan tinggalkan keterangan yang relevan di bawah ini, dan kami akan menghubungi Anda setelah meninjaunya.
Semua pertanyaan, termasuk jadwal pameran, pembelian karya, ceramah, wawancara, dan kolaborasi, kami terima secara terpadu melalui email. Silakan hubungi kami melalui kontak atau formulir di bawah ini. Kami akan meninjau dan membalas secara berurutan.
Kim Hyun Jung | 金 炫 廷 | Kim, Hyun-jung
- Email : artistjunga@kimhyunjung.kr
- Telepon : +82-2-585-6556
Kami juga berkomunikasi melalui media sosial
- Instagram (karya) : @naesoong_gallery
- Instagram (keseharian) : @artistjunga
- Facebook : facebook.com/artisthyunjung
- YouTube : @artistjunga
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Silakan periksa di sini sebelum menghubungi kami. Kumpulan pertanyaan yang sering diajukan kepada seniman beserta jawabannya.
-
Pakaian gadis Naesoong tampak tembus pandang. Mengapa demikian?
Menggambarkan kain secara tembus pandang mengandung makna 'isi hatinya terlihat jelas'. Hal ini dimaksudkan untuk mengarahkan penonton pada pemahaman tentang Naesoong (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan) itu sendiri. Saya berpendapat bahwa pandangan Konfusian yang menuntut sesuatu 'karena kamu perempuan' masih banyak tersisa dalam kehidupan kita, sehingga orang sering kali harus menyembunyikan keinginan dan jati dirinya yang sebenarnya. Karena itu, melukis tokoh dalam keadaan telanjang memiliki makna penting: melampaui pakaian yang bagaikan tirai untuk mendandani diri, ia memperlihatkan esensi tokoh yang polos dan apa adanya. Melalui hanbok yang tembus pandang, penonton dapat melihat ke dalam diri tokoh, dan siluet yang tampak samar-samar itu melambangkan kemungkinan untuk mendekati hakikat sang tokoh.
-
Mengapa menggunakan tinta pada rok?
Melukis rok dengan tinta dan warna tipis merupakan hal yang sangat bermakna. Bagian dalam rok perempuan yang lebar bagaikan alam semesta. Rok perempuan menyimpan banyak rahasia dan isinya tidak dapat diketahui, dan dari sanalah saya memperoleh citra ketakterbatasan (無窮). Tinta (墨) yang saya gunakan dalam berkarya juga mengandung ketakterbatasan alam semesta. Laozi mengatakan bahwa wujud sejati yang menjadi batas antara ada dan tiada, yin dan yang, adalah warna hitam tinta, yaitu hyeon (玄); hyeon ini berada di luar dunia persepsi kita, dan melaluinya kita dapat mencicipi kedalaman misteri alam semesta. Karena warna hitam tinta memiliki rasa keindahan yang tak terbatas dan misterius, maka menggambarkan rok perempuan yang menyerupai alam semesta dengan tinta tipis adalah sesuatu yang alami dan sudah semestinya.
-
Bagaimana proses pembuatan karya?
Saya memadukan teknik tradisional dengan kolase. Secara umum prosesnya melalui tiga tahap: ① pemotretan dan pembuatan sketsa dasar → ② pewarnaan → ③ kolase. Pemotretan dilakukan dua kali. Pemotretan pertama bertujuan menangkap siluet tubuh, sedangkan pada pemotretan kedua model berpose sama sambil mengenakan hanbok. Karena seri Naesoong mendandani siluet tokoh layaknya bermain boneka kertas, kedua pemotretan ini mutlak diperlukan. Setelah pemotretan selesai, saya memindahkan citra foto ke kertas alas sebagai sketsa dasar. Setelah sketsa selesai, pewarnaan dimulai. Pada tahap pewarnaan, tokoh digambarkan dengan warna tipis (淡彩, damchae), sedangkan benda-benda yang digunakan tokoh digambarkan dengan warna pekat (眞彩, jinchae). Terakhir, saya 'memakaikan' pakaian pada tokoh melalui lukisan tinta dan warna tipis atau kolase kertas hanji (kertas tradisional Korea). Ciri khas ekspresi Naesoong yang paling menonjol justru muncul pada tahap ini. Sebenarnya saya ingin menampilkan kesan khas jeogori (atasan hanbok) secara nyata, dan setelah lama berpikir, saya teringat pada kolase kertas hanji. Rok hanbok berpotongan lebar sehingga terkesan berayun lembut, sedangkan jeogori dibuat pas di badan hingga terasa agak kecil, sehingga kesannya lebih kaku, terutama pada garis bahu. Kolase kertas hanji sangat efektif untuk menampilkan tekstur hanbok seperti ini. Dalam Naesoong, kolase adalah sarana ekspresi hanbok yang efektif sekaligus mengembuskan ketegangan dan kehidupan ke dalam bidang gambar. Kolase juga memengaruhi citra keseluruhan karya bergantung pada bentuk dan warnanya. Fungsi khas kolase kertas hanji berpadu dengan lukisan tinta dan warna tipis pada tokoh sehingga menampilkan keindahan yang unik.
-
Mengapa Anda terus-menerus berkomunikasi dengan publik?
Seniman adalah semacam juru bicara yang mengungkapkan pikiran dan perasaan orang-orang atas nama mereka. Dengan kepekaan yang tajam, seniman menangkap secara jeli hal-hal yang hanya dirasakan samar oleh kebanyakan orang, lalu mengungkapkannya dengan jelas melalui cara yang tepat. Pada akhirnya, jika tidak mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan orang, saya tidak dapat mengungkapkannya dengan baik; bahkan memilih tema karya pun tidak bisa. Karena itu, komunikasi yang terus-menerus dengan publik sangatlah penting. Secara pribadi saya berusaha bertemu banyak orang dan mendengarkan kisah mereka yang berbeda-beda. Namun, ada keterbatasan fisik. Oleh karena itu, saya memanfaatkan perangkat digital secara aktif. Saya berkomunikasi dengan khalayak luas melalui media sosial dan juga membagikan kegiatan saya di sana. Tentu komunikasi melalui media sosial pun memiliki keterbatasan. Meski demikian, mengamati orang dan membaca arus zaman melalui media sosial adalah cara yang sangat efisien dan bermanfaat. Komunikasi dengan publik juga membuat seniman, yang harus berkarya seorang diri, merasa tidak terlalu kesepian. Ada perasaan berkarya bersama publik, sehingga saya tidak mudah lelah dan mendapat rangsangan. Saya menyukai cara berkarya yang berkomunikasi.
-
Apakah gadis Naesoong adalah potret diri Anda?
Untuk memperlihatkan Naesoong, saya harus melukis tokoh. Agar dapat mengamati Naesoong lebih cermat, saya sendiri menjadi modelnya. Mungkin itu pilihan yang wajar. Namun, pada karya-karya awal, meskipun saya modelnya, gadis Naesoong bukanlah diri saya. Saya melapisi lukisan itu dengan kepribadian orang lain, sehingga perempuan dalam lukisan adalah orang lain yang meminjam tubuh saya. Suatu dini hari di studio, saat melukis gadis Naesoong dalam keadaan setengah mengantuk, saya memandang cermin. Di cermin, seorang perempuan yang menyerupai tokoh di kanvas, bukan hanya rupanya tetapi juga hatinya, sedang menatap saya. Pengalaman kecil ini menjadi titik balik yang penting. 'Perempuan yang tidak mampu menampilkan dirinya dengan percaya diri dan bersikap serba tanggung sambil menyadari tatapan orang lain' di kanvas itu adalah 'saya' sendiri. Perempuan di kanvas yang saya kira orang lain ternyata sangat mirip dengan saya, bukan hanya penampilan luarnya tetapi juga batinnya. Setelah menemukan 'saya' yang sebenarnya dalam sosok 'saya' yang telah dijadikan orang lain ini, saya dapat lebih mendalami karya. Meskipun saya tidak tahu persis seperti apa diri saya, dengan mengungkapkan keadaan saya saat ini secara jujur dan berani, bukankah saya akan menjadi lebih percaya diri? Pada akhirnya, kisah Naesoong adalah kisah saya sendiri yang berisi pengakuan diri yang jujur. Sebagian besar motif lukisan mencerminkan perilaku atau kebiasaan sehari-hari saya. Kisah Naesoong berawal dari orang lain, tetapi juga merupakan proses menengok kembali diri sendiri dan mengaku dengan tulus.
-
Mengapa gadis Naesoong selalu mengenakan hanbok?
Salah satu motif karya saya adalah memberikan kejutan terhadap anggapan umum yang diterima begitu saja. Pandangan dan penilaian yang umum kadang mengubur kepribadian seseorang. Penilaian umum juga bisa berbeda dari kenyataan sehingga menimbulkan kekeliruan. Diperlukan sudut pandang kritis pada tingkat yang wajar. Sosok perempuan yang mengenakan rok besar, yang bagian dalamnya tidak dapat dilihat, melambangkan penyembunyian dan kerumitan yang berkaitan dengan Naesoong. Keindahan hanbok juga memperkuat sisi estetis karya. Namun, yang lebih penting adalah kontras yang unik antara hanbok dengan benda-benda modern seperti telepon genggam dan perangkat digital. Kontras ini hadir sebagai situasi yang tak terduga bagi orang-orang. Busana tradisional yang berdampingan dengan keseharian modern serta Naesoong yang berbeda antara luar dan dalam membentuk ketidaklaziman dan ironi, sehingga menyajikan sosok yang mendobrak. Perilaku gadis Naesoong yang sesungguhnya menyimpang dari anggapan umum bahwa 'dalam situasi seperti ini, harus bertindak seperti ini'. Bersepeda dengan hanbok sambil mengenakan earphone, atau mengoperasikan tablet PC dengan kaki di atas meja, adalah citra yang berbeda dari anggapan umum. Hanya saja, kejutan terhadap anggapan umum ini tidak sampai membuat tidak nyaman. Karya <Acha 我差 / Oops> menuliskan judulnya dengan aksara Tionghoa 'aku' (我) dan 'kurang' (差), yang berarti diri sendiri masih kurang. Saat kopi tumpah ke tas mewah adalah momen 'aduh', dan situasi memasak mi instan seharga seribu won sambil meminum kopi yang harganya berkali-kali lipat pun mau tidak mau membuat kita berseru 'aduh'. Meski begitu, kita tidak bisa berhenti. Karena itu, saya tidak punya pilihan selain menampilkan sosok Naesoong apa adanya. Melalui pengakuan diri, saya ingin bebas dari pandangan dan penilaian umum. Dengan memperlihatkan sisi yang tak terduga, pada akhirnya diri menjadi bebas.
-
Mengapa Anda memilih 'Naesoong' sebagai tema karya?
Saat baru melewati usia dua puluh tahun, saya sangat peka terhadap tatapan orang lain. Setelah masuk universitas, tiba-tiba saya berjumpa dengan banyak orang, dan tidak sedikit di antara mereka yang dengan mudah menilai saya. Penilaian tentang saya sering kali baik. Namun, kadang-kadang, setelah melewati mulut banyak orang, penilaian itu berubah secara aneh dan isi yang keliru sampai ke telinga saya. Tidak sedikit pula orang yang hanya melihat satu sisi lalu menghakimi secara sepihak. Saya merasakan beban besar dalam hubungan antarmanusia, sampai-sampai takut bertemu orang. Saya hanya ingin bersembunyi di suatu tempat. Tentu situasi seperti ini tidak hanya terjadi pada saya. Namun, karena saya orang yang sangat menghargai hubungan antarmanusia, hal itu sulit untuk ditanggung. Apa yang harus saya lakukan? Apa jalan keluarnya? Untuk menenangkan hati, saya bertanya pada diri sendiri (自問) siapa saya dan harus menjadi orang seperti apa saya kelak. Namun, yang ada hanya kebingungan. Sebagai gantinya, saya mengamati orang-orang yang dengan mudah menilai saya. Mereka yang dengan mudah menghakimi saya ternyata tidak jauh berbeda. Dalam situasi yang sama seperti ketika mereka mencela saya, mereka pun melakukan kesalahan yang serupa. Lalu, apakah mereka benar-benar menilai saya dengan niat buruk? Saya berpikir, mungkin sejak awal tidak ada niat jahat. Bukankah rasa tidak suka terhadap orang yang mencela kita pada akhirnya muncul karena kita menemukan diri sendiri di dalam mereka? Dari sinilah motif karya, yaitu Naesoong (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan), bermula. Saya ingin mengkarikaturkan sikap bermuka dua manusia, termasuk diri saya sendiri. Makna naesoong menurut kamus adalah 'tampak lugu di luar tetapi licik di dalam'. Karena karakteristik budaya Korea, kata naesoong cenderung mengingatkan orang pada perempuan. Namun, hal itu bukan milik perempuan semata. Dalam karya, semuanya bersifat netral, mulai dari definisi kata hingga jenis kelamin. Naesoong adalah 'ketidakselarasan' yang lazim muncul dari keinginan universal untuk diakui orang lain, yaitu menyembunyikan kekurangan diri dan menampilkan sisi yang baik. Ini juga merupakan naluri manusia. Pada akhirnya, hal ini dapat dilihat sebagai gejala seorang individu mengorbankan identitas dirinya demi anggapan umum masyarakat. Sambil melukis 'Kisah Naesoong', 'naesoong' tanpa terasa berubah menjadi objek analisis yang mencakup psikologi hingga filsafat. Secara sederhana, 'naesoong' yang dibicarakan dalam 'Kisah Naesoong' mencakup makna yang lebih luas: segala sikap menampilkan penampilan luar yang berbeda dari isi hati agar dipandang dan dinilai baik oleh orang lain.