Pelukis Korea Kim Hyun Jung ARTIST Hyunjung KIM

Luxin.com | Potret Korea Pelukis Kim Hyun Jung: Keindahan Batin – Istirahat Sempurna Setelah Makan Sendiri

Media Luxin.com Kategori Surat Kabar & Artikel Daring Tanggal terbit 2026.03.18

Tulisan ini adalah esai Kim Hyun Jung yang memperkenalkan karyanya 〈Naesoong: Meja Makan yang Sempurna〉 (2013), yang melalui figur seorang perempuan yang menyantap jajangmyeon dan daging babi asam manis sendirian dengan kotak paket sebagai meja makan, menelusuri kembali makna 'istirahat yang sempurna'. Sang pelukis menunjuk kontradiksi masyarakat Korea yang mendesak orang untuk 'mencintai dirinya sendiri' namun justru melimpahkan waktu dan tenaga untuk beristirahat kepada individu, dan menegaskan makna 'meja makan yang sepenuhnya untuk diriku' sebagai lawan dari citra ibu yang berbakti bagi keluarga. Melalui judul 'Naesoong', ia juga menyoroti sisi ganda perempuan yang tetap tampak rapi di hadapan pandangan orang lain namun menyingkapkan hasratnya secara jujur ketika sendiri.

Lihat teks lengkap

Masyarakat Korea dewasa ini terus-menerus mengkhotbahkan sebuah filosofi hidup — "meski sendiri, makanlah dengan baik, hiduplah dengan baik". Perusahaan membicarakan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi, sementara media mengemas makan sendiri dan minum sendiri sebagai gaya hidup generasi baru. Namun, di balik wacana yang tampak ringan dan mutakhir itu, tersembunyi tubuh dan jiwa yang sesungguhnya sudah lama kelelahan. Makan sendiri, alih-alih sebuah kebebasan, lebih menyerupai kenyataan yang terpaksa menjadi kebiasaan. Ia juga bayangan yang dijatuhkan oleh struktur kerja masa kini — orang bahkan kehilangan ruang untuk bersantap bersama orang lain dengan tenang. Masyarakat selalu menganjurkan agar orang "belajar merawat diri", tetapi waktu, uang, dan tenaga yang sesungguhnya menopang "perawatan diri" itu justru secara diam-diam dikembalikan menjadi beban individu. Yang digenggam orang yang sudah kehabisan tenaga bukanlah resor mahal, bukan pula pelarian yang jauh, melainkan hanya satu halaman menu yang akrab di aplikasi pesan-antar. Masyarakat yang tak henti menyerukan "cintailah dirimu" ini pada kenyataannya justru mereduksi istirahat yang paling mendasar menjadi soal apakah seseorang cukup cakap mengelola dirinya sendiri. Kontradiksi semacam itulah yang selalu membuat saya merasa tidak nyaman.

Sebagai pelukis Korea, saya ingin mengubah ketidaknyamanan itu menjadi sebuah gambar tentang satu kali makan yang sangat pribadi. Bukan adegan perjamuan pada paravan tradisional, bukan pula meja makan besar yang melambangkan kebersamaan keluarga, melainkan seorang perempuan yang menjadikan kotak paket kantor pos sebagai meja makan dan sendiri menghadapi jajangmyeon serta daging babi asam manis. Ia mengenakan jeogori hanbok yang rapi dan elegan, namun sikap tubuhnya sama sekali tidak anggun. Ia bersandar miring di lantai, satu kakinya terjulur seenaknya, dan pandangannya tertambat acuh tak acuh pada video pendek yang terus berputar di ponselnya. Ini jauh dari "gambaran penyembuhan diri" yang biasa kita lihat dalam iklan. Namun justru saya merasa bahwa wajah yang benar-benar milik istirahat hanya muncul pada momen yang sedikit berantakan, sedikit longgar, bahkan agak kehilangan tatanan seperti ini. Ini bukan meja makan yang perlu dipamerkan kepada orang lain, melainkan sebuah panggung pribadi yang hanya boleh dipersembahkan kepada diri sendiri. Karya 〈Naesoong: Meja Makan yang Sempurna〉 — Naesoong (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan) — justru mendorong "aku" yang duduk di tengah panggung itu ke barisan paling depan gambar.

Inti sesungguhnya dari lukisan ini adalah kotak paket itu. Kardus sekali pakai itu hampir tanpa penghalang menyingkapkan sifat sementara dan serba dadakan kehidupan kita. Seperti kardus bergelombang yang hari ini menumpuk di depan pintu dan besok sudah diangkut pergi, istirahat kita pun selalu dibangun di atas semacam jalan pintas darurat. Selesai kerja lembur dan pulang ke rumah, sambil gelisah memikirkan pagi esok, seseorang menelan cepat-cepat santapan tengah malamnya; ini bukan meja makan yang disiapkan dengan cermat untuk keluarga, melainkan pilihan paling langsung untuk sekadar menopang tubuh yang kelelahan. Saus hitam kental jajangmyeon dan kilau berminyak di permukaan daging asam manis itu jauh dari kebajikan "sehat" dan "menahan diri" yang berulang kali dipuji. Meski begitu, santapan ini tetap merupakan ritual kecil yang nyata; ia membuat orang memastikan bahwa dirinya masih hidup, masih mempertahankan rasa keberadaan yang paling minimal di tengah kelelahan yang berulang hari demi hari. Video pendek yang terus berputar otomatis di layar ponsel pun seperti isyarat batin "ingin menjeda pikiran", berkedip lemah namun terus-menerus. Di sini, yang disebut "sempurna" tidak berarti keseimbangan rasa dan gizi, tidak pula berarti kehalusan dan kepantasan, melainkan akhirnya dapat memiliki sesaat kekosongan batin — tak perlu menilai, tak perlu menanggapi, dan tak perlu terus berpura-pura kuat.

Sementara itu, "meja makan yang sempurna" yang dibayangkan masyarakat hingga kini masih berhenti pada adegan makan malam ketika seluruh keluarga duduk mengelilingi meja. Dan di pusat meja itu hampir selalu ada seorang ibu. Ia terus menambah lauk, menghangatkan kembali lauk kecil yang sudah dingin, lalu membagi makanan satu per satu bagi anggota keluarga yang seleranya berbeda-beda. Kelelahan semacam itu selalu diberi nama "kasih" dan dipoles menjadi kebajikan "pengabdian". Namun kerja keras itu hampir tak pernah benar-benar dibalas. Tidak ada yang menyediakan waktu istirahat untuknya, tidak ada pula yang memikul sebagian beban kerja rumah tangganya. Saya membenci pembiaran yang tak seorang pun mau bertanggung jawab atasnya. Karena itu, dalam 〈Naesoong: Meja Makan yang Sempurna〉, perempuan ini tidak lagi dinamai ibu siapa atau istri siapa. Ia hanyalah seorang "aku" yang berhasil melewati hari ini dan sendiri menghadapi meja makan yang sepenuhnya sesuai dengan seleranya. Di sini, yang disebut "sempurna" tidak lagi bergantung pada apakah harapan orang lain terpenuhi, melainkan pada apakah waktu itu akhirnya ada semata-mata untuk dirinya sendiri. Sekalipun singkat, sekalipun tampak tak berarti, selama saat itu benar-benar miliknya sendiri, ia sudah cukup berharga.

Adapun kata "Naesoong" dalam judulnya kembali membalikkan adegan ini secara diam-diam. Di dunia luar, ia selalu mengelola dirinya dengan nada bicara yang terkendali dan sikap tubuh yang pantas. Saat makan bersama, ia akan berkata sambil tersenyum, "Saya sudah kenyang," lalu meletakkan sumpitnya perlahan; di kantor, ia pun selalu mempertahankan air muka yang sibuk namun tenang, lelah namun terhormat. Namun, ketika pintu kamar tertutup dan hanya ia sendiri yang tinggal, selera makan dan kesukaan yang lama ditekan itu akhirnya mendapat kesempatan menampakkan wujud sejatinya. Ia menuangkan saus asam manis tanpa ragu hingga memenuhi dagingnya, dan mengeruk bersih sisa terakhir saus jajang di dasar mangkuk. Penampilan seperti ini jelas tidak sesuai dengan "kelembutan dan keanggunan" yang diharapkan masyarakat. Tetapi saya tidak ingin memandang penyimpangan itu sebagai kekhilafan yang sukar diucapkan. Sebaliknya, saya selalu percaya bahwa hasrat manusia justru tampak paling jujur dan paling mengharukan di celah-celah semacam itu. Dalam 〈Naesoong: Meja Makan yang Sempurna〉, yang ditanggalkan justru topeng keanggunan dan pengendalian diri itu, sedangkan yang tersingkap adalah sebuah diri yang nyata dan kelaparan. "Sempurna" di sini bukan lagi citra tanpa cela dan tanpa cacat, melainkan kemampuan untuk akhirnya berkata lirih kepada diri sendiri, setelah sejenak lepas dari pandangan orang lain — "Hari ini pun aku berhasil bertahan." Merebut kembali hak yang kecil namun nyata seperti itulah pertanyaan yang diajukan meja makan ini, dan juga tempat yang sesungguhnya ingin dicapai oleh karya ini.

Pelukis Korea Kim Hyun Jung (Sumber: Kim Hyun Jung Art Center)

Pelukis Korea Kim Hyun Jung adalah lulusan Sunhwa Arts Middle School dan Sunhwa Arts High School, menempuh pendidikan di Jurusan Lukisan Oriental Universitas Nasional Seoul, serta menyelesaikan program doktoral di sekolah pascasarjana universitas yang sama. Ia dikenal luas melalui 〈Seri Naesoong〉 yang menggambarkan adat kehidupan sehari-hari Korea abad ke-21, dan mahir menangkap secara cermat tekstur kehidupan serta lapisan emosi orang Korea masa kini dengan sentuhan yang sekaligus humoris dan satiris, seraya terus merespons realitas sosial dan suasana zaman melalui sudut pandang "potret Korea". Ia pernah beraktivitas sebagai "Kakak Sanggul" dalam program EBS "Haeyo Hwa Haeyo" (transliterasi), sekaligus menjabat duta promosi Kota Seoul dan Hope Bridge. Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga berinteraksi dengan sekitar 300.000 pengikut melalui platform media sosial dan, melalui pameran dalam maupun luar negeri yang berlangsung terus-menerus, semakin memperluas batas ekspresi serta kemungkinan penyebaran lukisan Korea dalam konteks kontemporer.

Lihat artikel asli →