Edaily | ‘Gadis Naesoong’ Berhanbok Semitransparan… Itu Persis Wujud Saya Sendiri
Edaily mewawancarai pelukis Korea Kim Hyun Jung yang tampil sebagai pembicara pada World Women's Economic Forum (WWEF) 2016. Ia mengungkapkan bahwa serial 'gadis Naesoong', yang menggambarkan perempuan berhanbok semitransparan, sesungguhnya adalah potret dirinya sendiri, serta memperkenalkan proses merancang dan mempromosikan sendiri pamerannya melalui media sosial beserta rencananya ke depan.
Lihat teks lengkap
Seorang perempuan muda berhanbok semitransparan bermain biliar di dalam lukisan, atau mengendarai sepeda motor pengantar McDonald's. Tergambar pula sosoknya yang dengan gaya membakar samgyeopsal atau menyantap tteokbokki. Itulah momen ketika prasangka bahwa perempuan berhanbok mestinya kalem dan anggun runtuh.
◇ Naesoong (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan), 'kebohongan menggemaskan' yang tidak dipercaya
Pelukis Korea muda Kim Hyun Jung (foto) mendapat perhatian sejak awal debutnya dengan mengontraskan perempuan berhanbok dengan pemandangan modern di bawah nama 'gadis Naesoong'. Kim, yang ditemui baru-baru ini di studionya di Gangnam-gu, Seoul, mengakui bahwa 'gadis Naesoong' dalam lukisannya adalah wujud dirinya sendiri.
"Lukisan ini sesungguhnya potret diri sekaligus buku harian. Ketika pertama kali mulai melukis dengan 'gadis Naesoong' sebagai tokoh utama, saya menjadikan orang yang saya benci sebagai tokoh utamanya. Sebab saya menganggap orang yang ber-naesoong itu berbeda antara depan dan belakang. Tetapi sambil melukis gadis Naesoong, saya menyadari bahwa saya tidak menyukainya karena ia banyak menyerupai (diri saya)."
Rok hanbok yang dikenakan 'gadis Naesoong' dalam lukisan Kim semuanya tembus pandang. Kim mendefinisikan naesoong, yang isinya terlihat jelas, sebagai 'kebohongan menggemaskan' yang tidak dipercaya. "Justru karena isinya terlihat jelas, saya menganggap naesoong itu menggemaskan," ujar Kim, lalu balik bertanya, "Bukankah naesoong seorang perempuan yang tidak sedang lapar di depan kekasihnya tapi tiba-tiba perutnya berbunyi itu menggemaskan?"
◇ Merancang pameran hingga mempromosikannya sendiri
Hidup sebagai pelukis penuh waktu tidak mudah. Bahkan ada kabar angin bahwa seorang pelukis baru menjadi terkenal setelah menderita kemiskinan dan mati muda. Kim pun tidak menyangkal seluruh prasangka semacam itu. Menyebut dirinya 'orang yang beruntung', Kim terus memikirkan cara untuk bertahan tanpa henti sebagai pelukis.
"Karena saya pelukis, saya memang tidak mengalungkan kartu pegawai seperti kalung leher sebagaimana teman-teman lain, tetapi saya merasa ada kalung tak terlihat di leher saya. Karena berpikir bahwa saya bisa hidup meski melakukan pekerjaan yang benar-benar saya sukai, sejak empat tahun lalu saya menjadi pelukis penuh waktu. Karena memulai sendiri, saya sangat merasa sebagai 'pengusaha satu orang' yang mempromosikan sendiri dan merancang sendiri pamerannya. Sampai sekarang saya beruntung mendapat perhatian sejak awal, tetapi saya selalu memikirkan bagaimana bertahan ke depan."
◇ Berkomunikasi dengan penonton lewat media sosial, akan berdialog pula dengan wisatawan Tiongkok
Kim merasakan langsung kekuatan pengaruh layanan jejaring sosial (media sosial) sejak awal. Pameran pertamanya yang dibuka secara kecil-kecilan di Insa-dong, Jongno-gu, Seoul, dipenuhi pengunjung. Kim, yang saat itu belum dikenal, tidak mengerti bagaimana penonton bisa mengetahui dan datang. Ternyata seorang kurator terkenal yang belum pernah ia jumpai memperkenalkan sendiri karya Kim dan jadwal pamerannya di Facebook. Setelah itu Kim memusatkan tenaganya untuk mempromosikan pameran dan karya melalui media sosial. Kim berupaya merendahkan ambang batas agar siapa pun mudah mengunjungi museum seni.
"'Kisah Gadis Naesoong' yang kami rancang adalah pameran yang paling banyak dikunjungi di Korea. Saya mengundang penonton lewat media sosial, dan selama sekitar dua pekan sekitar 23.000 orang datang. Sampai sekarang saya banyak belajar sambil berkomunikasi dengan penonton melalui media sosial. Ke depan saya sedang belajar agar bisa berkomunikasi dengan penonton Tiongkok melalui kanal seperti siaran perorangan."
Kim akan tampil sebagai pembicara pada World Women's Economic Forum (WWEF) ke-5 yang digelar pada tanggal 19 nanti di Some Sevit (Gavit), Seocho-gu, Seoul. Tampil pada sesi keempat, Kim berencana mengisi waktu untuk merenung dan berkomunikasi bersama kaum muda yang hidup di masa yang sama dengannya.