Pelukis Korea Kim Hyun Jung ARTIST Hyunjung KIM

Zhihu Fashion | Potret Korea oleh Pelukis Kim Hyun Jung: Keindahan Batin – Istirahat Sempurna Setelah Makan Sendiri

Media Zhihu Fashion Kategori Surat Kabar & Artikel Daring Tanggal terbit 2026.03.20 Reporter / Program Shishang Yulequan

Pelukis Korea Kim Hyun Jung memublikasikan catatan pelukis mengenai karyanya '〈Naesung: Meja Makan yang Sempurna〉' yang mengangkat budaya 'honbap' (makan sendiri) pada rumah tangga satu orang. Ia menjelaskan bahwa melalui gambaran seorang perempuan berhanbok yang menyantap jajangmyeon dan tangsuyuk dengan kotak paket sebagai meja makan, ia melukiskan momen istirahat yang sepenuhnya untuk diri sendiri, bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain.

Lihat teks lengkap

Masyarakat Korea dewasa ini terus-menerus mengkhotbahkan satu filosofi hidup: "Meskipun sendiri, makanlah dengan baik dan hiduplah dengan baik." Perusahaan berbicara tentang keseimbangan kerja dan kehidupan individu, sementara media mengemas makan sendiri dan minum sendiri sebagai gaya hidup generasi baru. Namun di balik wacana yang tampak ringan dan modis itu, yang tersembunyi justru tubuh dan jiwa yang sudah letih. Makan sendiri, alih-alih sebuah kebebasan, lebih menyerupai kenyataan yang terpaksa dibiasakan. Ia juga merupakan bayang-bayang yang dijatuhkan oleh struktur kerja masa kini — orang bahkan dirampas ruang untuk bersantap bersama orang lain dengan tenang. Masyarakat selalu menganjurkan agar orang "belajar merawat diri sendiri", tetapi waktu, uang, dan tenaga yang sesungguhnya menopang "perawatan diri" itu justru diam-diam dilimpahkan kembali kepada individu. Yang digenggam orang yang kehabisan tenaga bukanlah resor mahal, bukan pula pelarian yang jauh, melainkan hanya satu halaman menu yang akrab di aplikasi pesan-antar. Masyarakat yang tanpa henti menyerukan "cintailah dirimu" ini pada kenyataannya juga mereduksi istirahat yang paling dasar menjadi soal apakah individu cukup pandai mengelola dirinya. Kontradiksi semacam itu membuat saya senantiasa merasa tidak nyaman.

Sebagai pelukis Korea, saya ingin mengubah rasa tidak nyaman itu menjadi sebuah gambar tentang satu jamuan pribadi. Bukan adegan perjamuan pada paravan tradisional, bukan pula meja makan besar yang melambangkan kebersamaan keluarga, melainkan seorang perempuan yang menjadikan kotak paket kantor pos sebagai meja makan dan sendiri menghadapi jajangmyeon serta tangsuyuk. Ia mengenakan jeogori hanbok yang rapi dan elegan, namun sikap tubuhnya sama sekali tidak anggun. Ia bersandar miring di lantai, satu kakinya terjulur seenaknya, dan pandangannya berhenti tanpa gairah pada video pendek yang terus berputar di telepon pintarnya. Ini jauh dari "gambaran penyembuhan" yang biasa kita lihat dalam iklan. Namun justru saya merasa bahwa wajah yang sungguh-sungguh milik istirahat hanya akan muncul pada momen yang sedikit kikuk, sedikit longgar, bahkan agak tidak beraturan seperti itu. Ini bukan meja makan yang perlu dipamerkan kepada orang lain, melainkan sebuah panggung pribadi yang hanya boleh dipersembahkan untuk diri sendiri. Karya 〈Naesung: Meja Makan yang Sempurna〉 justru mendorong "aku" yang duduk di tengah panggung itu ke bagian paling depan gambar.

Inti sejati lukisan ini adalah kotak paket tersebut. Kotak kertas sekali pakai itu hampir tanpa tirai memperlihatkan sifat sementara dan serba-mendadak dari kehidupan kita. Sebagaimana kardus bergelombang yang hari ini menumpuk di depan pintu dan besok akan diangkut pergi, istirahat kita pun selalu dibangun di atas suatu jalan pintas darurat. Selesai kerja lembur dan pulang ke rumah, seseorang menelan cepat-cepat santapan tengah malam sambil cemas memikirkan pagi esok hari; ini bukan meja makan yang disiapkan dengan cermat untuk keluarga, melainkan pilihan paling langsung demi sekadar menopang tubuh yang letih. Saus hitam pekat jajangmyeon dan kilau berminyak yang mengambang di permukaan tangsuyuk jauh dari keutamaan "sehat" dan "menahan diri" yang berulang kali dipuji. Namun meski demikian, santapan ini tetap merupakan ritual kecil yang nyata; ia membuat orang memastikan bahwa dirinya masih hidup, masih mempertahankan semacam rasa keberadaan minimum di tengah keletihan yang berulang hari demi hari. Video pendek yang terus berputar otomatis di layar telepon pintar pun seperti isyarat batin yang berbunyi "ingin berhenti berpikir", berkelip lemah namun terus-menerus. Di sini, yang disebut "sempurna" tidak berarti keseimbangan rasa dan gizi, tidak pula berarti kehalusan dan kepantasan, melainkan akhirnya dapat memiliki sesaat kekosongan mental — tidak perlu menilai, tidak perlu menanggapi, dan tidak perlu terus berpura-pura kuat.

Sementara itu, "meja makan yang sempurna" yang dibayangkan masyarakat hingga kini masih berhenti pada adegan makan malam ketika satu keluarga duduk bersama. Dan di pusat meja makan itu, hampir selalu ada seorang ibu. Ia terus-menerus menambah lauk, memanaskan kembali banchan yang sudah dingin, lalu membagi makanan satu per satu untuk anggota keluarga yang seleranya berbeda. Keletihan semacam itu selalu diberi nama "kasih" dan dipoles menjadi keutamaan "pengabdian". Namun kerja keras ini hampir tidak pernah sungguh-sungguh dibalas. Tidak ada yang menyisihkan waktu istirahat untuknya, tidak ada pula yang memikul bagian dari beban kerja rumah tangga. Saya membenci pembiaran tanpa penanggung jawab seperti itu. Karena itu, dalam 〈Naesung: Meja Makan yang Sempurna〉, perempuan ini tidak lagi dinamai ibu siapa atau istri siapa. Ia hanyalah seorang "aku" yang berhasil melewati hari ini, sendiri menghadapi meja makan yang sepenuhnya sesuai seleranya. Di sini, yang disebut "sempurna" tidak lagi bergantung pada apakah harapan orang lain telah terpenuhi, melainkan pada apakah rentang waktu itu akhirnya ada hanya untuk dirinya sendiri. Walau singkat, walau tampak tidak berarti, selama momen itu sungguh-sungguh miliknya, ia sudah cukup berharga.

Kata "Naesung" (istilah Korea untuk sikap menyembunyikan perasaan yang sebenarnya di balik penampilan) pada judul selanjutnya membalikkan adegan ini secara diam-diam. Di dunia luar, ia senantiasa mengelola diri dengan nada bicara yang terkendali dan sikap tubuh yang tertib. Saat makan bersama, ia akan berkata sambil tersenyum, "Saya sudah kenyang," lalu meletakkan sumpitnya dengan lembut; di kantor, ia pun selalu mempertahankan air muka yang sibuk namun tenang, letih namun pantas. Namun ketika pintu kamar tertutup dan hanya ia sendiri yang tinggal, nafsu makan dan kesukaan yang lama ditekan itu akhirnya mendapat kesempatan menampakkan wujud sejatinya. Ia menuang saus tangsu tanpa ragu sampai memenuhi tangsuyuk, dan mengeruk bersih hingga sisa terakhir saus jajang di dasar mangkuk. Penampilan seperti ini jelas tidak sesuai dengan "kelembutan dan keanggunan" yang diharapkan masyarakat. Namun saya tidak ingin memandang penyimpangan itu sebagai kelakuan tak pantas yang sulit diucapkan. Sebaliknya, saya senantiasa yakin bahwa hasrat manusia justru tampak paling jujur dan paling mengharukan pada celah semacam itu. Dalam 〈Naesung: Meja Makan yang Sempurna〉, yang ditanggalkan justru topeng keanggunan yang serba terkendali itu, sedangkan yang tersingkap adalah diri yang nyata dan kelaparan. "Sempurna" di sini bukan lagi citra tanpa cacat yang tak dapat dicela, melainkan momen ketika seseorang, setelah sementara lepas dari pandangan orang lain, akhirnya dapat berkata lirih kepada dirinya sendiri — "Hari ini pun aku bertahan." Merebut kembali hak yang kecil namun nyata seperti itulah pertanyaan yang diajukan meja makan ini, sekaligus tempat yang sungguh ingin dicapai karya ini.

Pelukis Korea Kim Hyun Jung (Sumber: Kim Hyun Jung Art Center)

Pelukis Korea Kim Hyun Jung lulus dari SMP Seni Sunhwa dan SMA Seni Sunhwa, melanjutkan studi di Jurusan Lukisan Oriental Universitas Nasional Seoul, dan menyelesaikan program doktoral di pascasarjana universitas yang sama. Ia dikenal luas melalui 〈Seri Naesung〉 yang menggambarkan adat sehari-hari Korea abad ke-21, pandai menangkap secara halus tekstur kehidupan dan lapisan emosi orang Korea masa kini dengan sapuan yang sekaligus jenaka dan satiris, serta terus merespons kenyataan sosial dan suasana zaman melalui sudut pandang "potret Korea". Ia pernah beraktivitas sebagai "Kakak Daenggi" dalam program EBS "Haeyo Hwa Haeyo" (transliterasi), dan sekaligus menjabat sebagai duta promosi Kota Seoul serta Hope Bridge. Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga berinteraksi dengan sekitar 300.000 pengikut melalui platform media sosial, dan melalui pameran dalam maupun luar negeri yang berlangsung terus-menerus, ia semakin memperluas batas ekspresi dan kemungkinan penyebaran seni lukis Korea dalam konteks kontemporer.

Lihat artikel asli →